Selasa, 28 Mei 2013

Apresiasi Puisi






  Apresiasi Puisi
a.  Ciri-ciri puisi 
Berdasarkan sejarah perpuisian Indonesia modern, puisi dapat dibagi menjadi: Puisi Lama, Puisi Baru, dan Puisi Kontemporer. Sesuai dengan tujuan, pembahasan apresiasi puisi ini dibatasi pada jenis, ciri-ciri, dan contoh-contoh  Puisi Lama dan  Puisi Baru.
1)  Puisi Lama
Puisi Lama sering disebut juga puisi Melayu lama adalah puisi yang memancarkan kehidupan masyarakat lama, adat istiadat, dan kebiasaan masyarakat lama (Alisjahbana,1954: 4). Kita mengenal beberapa jenis puisi, antara lain: pantun, syair, gurindam, dan talibun.
Pantun adalah jenis puisi lama yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
(a)   setiap bait terdiri atas empat larik/baris;
(b)   setiap larik terdiri atas 8 - 12 suku kata;
(b)  memiliki rima akhir  (persamaan bunyi)  /a/-/b/-/a/-/b/;
(c) tiap larik biasanya terdiri atas empat kata; (d) larik pertama dan kedua merupakan sampiran (semacam teka-teki), sedangkan larik ketiga dan keempat merupakan isi. Berikut beberapa contohnya.
Elok rupanya si kumbang jati
dibawa itik pulang petang
Tidak terkata besar hati
melihat ibu sudah datang

Hiu beli belanak pun beli
udang di Manggung beli pula
Adik benci kakak pun benci
orang di kampung benci pula

Menilik ragam isinya ada tiga macam jenis pantun, yaitu: pantun anak-anak, pantun orang muda, dan pantun orangtua. Pantun anak-anak dapat dirinci menjadi pantun bersukacita dan pantun berdukacita. Pantun orang muda dapat dibagi menjadi pantun dagang/nasib, pantun muda, dan pantun jenaka. Adapun pantun muda masih dapat digolongkan ke dalam pantun berkenalan, pantun berkasih-kasihan, pantun perceraian, dan pantun beriba hati. Sementara itu, pantun orangtua dapat dibagi menjadi pantun nasihat, pantun adat, dan pantun agama.
Beberapa contoh pantun berikut ini dapat Anda tebak termasuk jenis yang mana.
Ada papaya ada mentimun
Ada mangga ada salak
Daripada duduk melamun
Mari kita membaca sajak

Pecah ombak di Tanjung Cina
menghempas pecah di tepian
Biarlah makan dibagi dua
asalkan adik jangan tinggalkan

Pulau Pandan jauh di tengah
di balik Pulau Angsa Dua
Hancur badan di kandung tanah
budi baik terkenang jua

Syair adalah jenis puisi lama yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (a) setiap baitnya terdiri atas empat larik; (b) mempunyai rima yang sama setiap lariknya, yaitu /a/-/a/-/a/-/a/; (c) semua larik merupakan isi, biasanya tidak selesai dalam satu bait karena digunakan untuk menyampaikan suatu cerita; (d) isinya berupa cerita yang mengandung unsur mitos, sejarah, agama/falsafah, atau rekaan belaka. Contoh syair misalnya: Syair Singapura Dimakan Api (sejarah), Syair Perahu (berisi ajaran agama), Syair Bidadari (rekaan), Syair Ken Tambunan (rekaan), dan lain-lain. Berikut dikutipan dua bait dari Syair Ken Tambunan.
Lalulah berjalan Ken Tambuhan
Diiringkan penghibur dengan tandahan
Lemah lembut berjalan perlahan
Lakunya manis memberi kasihan

Tunduk menangis segala putri
Masing-masing berkata sama sendiri
Jahatnya perangai permaisuri
Lakunya seperti jin dan peri

Gurindam adalah jenis puisi lama yang mempunyai ciri-ciri: (a) setiap bait terdiri atas dua larik; (b) setiap bait berima akhir /a/-/a/; (c) larik pertama merupakan sebab atau syarat, sedangkan larik kedua merupakan akibat atau simpulan; (d)  kedua larik merupakan kesatuan yang utuh, dan isinya biasanya berupa nasihat tentang keagamaan, budi pekerti, pendidikan, moral, dan tingkah laku. Gurindam yang paling terkenal adalah Gurindam Dua Belas yang dikarang oleh Raja Ali Haji yang terdiri atas dua belas pasal. Berikut dikutipkan gurindam pasal II dan IV dari Gurindam Dua Belas.
II
Barangsiapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

Barangsiapa meninggalkan zakat
tiadalah hartanya beroleh berkat

IV
Hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau lalim, segala anggota pun rubuh

Pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

Talibun adalah jenis puisi lama yang mempunyai ciri-ciri: (a) setiap baitnya terdiri atas 6, 8, 10 larik lebih, bahkan sampai ada talibun yang satu baitnya terdiri atas 20 larik; (b) mempunyai sampiran dan isi; (c) rumus rimanya abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dan seterusnya; (d)  terdiri dari dua bagian, bagian sampiran dan bagian isinya. Jadi, talibun yang terdiri dari 6 larik misalnya, tiga larik pertama merupakan sampiran, sedangkan 3 larik berikutnya merupakan isinya. Isinya bervariasi. Ada yang mengisahkan kebesaran/kehebatan sesuatu tempat, keajaiban sesuatu benda/peristiwa, kehebatan/kecantikan seseorang, dan kelakuan serta sikap manusia. Berikut dikutipkan berapa contoh talibun.
Contoh talibun 6 larik (abc-abc).
Kalau anak pergi ke lepau
Yu beli belanak pun beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi merantau
Ibu cari sanak pun cari
Induk semang cari dahulu



2)  Puisi Baru
Puisi-puisi pada periode Pujangga Baru dikenal sebagai puisi baru. Ciri-cirinya antara lain:
a) para penyairnya sudah tidak lagi menulis puisi dalam bentuk pantun, syair, atau gurindam;
b) jenis puisinya mengikuti bentuk baru seperti distichon (2 larik), tersina (3 larik), quartrain (4 larik), quint (5 larik), sextet (6 larik), septima (7 larik), oktaf (8 larik), dan soneta (14 larik);
c) lariknya simetris, penuh rima dan irama;
d) pilihan katanya diwarnai dengan kata-kata yang indah-indah;
e) bahasa kiasan yang banyak dimanfaatkan adalah perbandingan.
Para penyairnya antara lain: Amir Hamzah, SutanTakdir Alisjahbana, J.E. Tatengkeng, dan Asmara Hadi.
Sebagai contoh berikut dikutipkan puisi karya J.E. Tatengkeng yang berjudul “Perasaan Seni”.
PERASAAN SENI
                               (J.E. Tatengkeng)
Bagaikan banjir gulung-gemulung
Bagaikan topan seru-menderu
       Demikian Rasa
       Datang semasa
Mengalir, menimbun, mendesak, mengepung
Memenuhi sukma, menawan tubuh

Serasa manis sejuknya embun
Selagu merdu dersiknya angin
       Demikian Rasa
       Datang semasa
Membisik, mengajak aku berpantun
Mendayung jiwa ke tempat diingin

Jika Kau datang sekuat raksasa
Atau Kau menjelma secantik juwita
       Kusedia hati
       Akan berbakti
Dalam tubuh Kau berkuasa
Dalam dada Kau bertakhta

b.  Unsur Intrinsik
Puisi dibangun oleh dua unsur yang saling terkait, yakni struktur batin/makna dan struktur fisik yang berupa bahasa. Struktur fisik terdiri atas: diksi, citraan, bahasa kiasan, rima, irama, dan tipografi; sedangkan struktur batin terdiri atas: tema, perasaan, nada, dan amanat.
Diksi adalah pemilihan kata yang dilakukan oleh penyair. Pilihan itu dilakukan secermat-cermatnya untuk menyampaikan perasaan dan isi pikiran penyair. Ketepatan pilihan kata dapat mengekspresikan jiwa penyair seperti yang dikehendakinya secara maksimal sehingga pembaca pun akan merasakan hal yang sama.
Dalam diksi diperhatikan juga kosa kata, urutan kata, dan daya sugesti kata. Kosa kata dipilih untuk kekuatan ekspresi, menunjukkan ciri khas, suasana batin, dan latar belakang sosio budaya si penyair.   
Citraan atau imaji adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman pancaindra yang menyebabkan pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu. Pengimajian ditandai dengan pemakaian kata yang konkret dan khas.
Citraan adalah sebuah efek dalam gambaran angan atau pikiran yang sangat menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh ungkapan penyair terhadap sebuah objek yang dapat ditangkap oleh indra penglihatan, pendengaran, perabaan, pencecapan, dan penciuman.
Perhatikan puisi karya Rendra berjudul “Episode” berikut ini.
Episode
Kami duduk berdua
di bangku halaman rumahnya.
Pohon jambu di halaman itu
berbuah dengan lebatnya
dan kami senang memandangnya.
Angin yang lewat
memainkan daun yang berguguran
Tiba-tiba ia bertanya:
"Mengapa sebuah kancing bajumu
lepas terbuka?“
Aku hanya tertawa
Lalu ia sematkan dengan mesra
sebuah peniti menutup bajuku.
Sementara itu
Aku bersihkan
guguran bunga jambu
yang mengotori rambutnya.
(Rendra, Empat Kumpulan Sajak, hlm.18)

Bahasa kiasan mencakup semua jenis ungkapan yang bermakna lain dengan makna harfiahnya, yang bisa berupa kata, ataupun susunan kata yang lebih luas. Bahasa kiasan berfungsi sebagai sarana untuk menimbulkan kejelasan gambaran angan supaya menjadi lebih jelas, menarik, dan hidup. Perhatikan kata-kata yang dicetak miring dalam penggalan kutipan puisi berjudul “Di Meja Makan” karya Rendra berikut ini.
Di Meja Makan
Ia makan nasi dan isi hati
pada mulut terkunyah duka
tatapan matanya pada lain isi meja
lelaki muda yang dirasa
tidak lagi dimilikinya.

Ruang diributi jerit dada
Sambal tomat pada mata
meleleh air racun dosa
….
Ada banyak jenis bahasa kiasan yang dimanfaatkan dalam puisi, misalnya: perbandingan (bahasa kiasan yang menggunakan kata-kata pembanding),  metafora (perbandingan yang tidak menggunakan kata-kata pembanding), dan personifikasi (mempersamakan benda-benda dengan sifat manusia).
Rima adalah persajakan yang terdapat dalam baris atau bait yang berfungsi untuk membentuk orkestrasi, baik berbentuk asonansi (ulangan bunyi vokal pada kata yang berurutan), maupun aliterasi (ulangan bunyi konsonan pada awal kata yang berurutan), dsb.
Irama adalah pertentangan bunyi: tinggi/rendah, panjang/pendek, keras/ lemah yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan; sedangkan tipografi adalah susunan larik yang terikat dalam membentuk bait puisi, bisa satu larik, dua larik, tiga larik, empat larik, dan seterusnya.
Struktur batin puisi terdiri dari: tema,perasaan, nada, dan amanat.
Tema adalah gagasan pokok atau pokok persoalan yang dikemukakan oleh penyairnya. Secara garis besar, tema yang dihadirkan pada puisi meliputi keindahan alam, masalah manusia dalam hubungannya dengan dirinya sendiri, masalah manusia dalam hubungannya dengan manusia lain, dan masalah manusia dalam hubungannya dengan Tuhan yang menyangkut semangat hidup manusia dalam mempertahankan kehidupannya yang lebih baik dan bermanfaat.
Perasaan adalah sikap penyair terhadap pokok persoalan (objek puisi) yang digarapnya. Unsur perasaan terkait erat dengan unsur tema atau pokok persoalan dalam puisi. Contoh perasaan dapat ditemukan pada puisi apabila penyair mengemukakan perasaannya kepada seseorang, sebagai tanda simpatik atau acuh tak acuh.
Nada adalah sikap penyair terhadap pembacanya (bisa menggurui, penuh kesinisan, mengejek, menyindir, humor, atau secara lugas). Dengan demikian nada sajak sangat erat kaitannya dengan rasa dan pokok persoalan yang dikandung puisi tersebut.
Amanat adalah tujuan atau pesan yang secara eksplisit maupun implisit ingin disampaikan penyair melalui puisi-puisinya kepada pembacanya.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Ruang Kelas 6 - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz