Selasa, 28 Mei 2013

Apresiasi Drama

  
  Pengertian dari Drama
Kata drama berasal dari bahasa Greek; tegasnya dari kata kerja dran yang berarti “berbuat, to act atau to do”. Drama berarti perbuatan, tindakan, atau beraksi (action). Drama cenderung memiliki pengertian ke seni sastra. Di dalam seni sastra, drama setaraf dengan jenis puisi, prosa/esai. Drama juga berarti suatu kejadian atau peristiwa tentang manusia. Cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience).
Drama sebagai bentuk pertunjukan melukiskan sifat manusia dengan gerak dan segala hal yang mendukungnya. Berdasarkan penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa drama pada dasarnya adalah salah satu cabang seni sastra yang mementingkan dialog, gerak, dan perbuatan menjadi  suatu lakon yang dipentaskan di atas panggung.
Unsur-unsur drama pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan unsur-unsur dalam prosa fiksi. Unsur-unsur tersebut adalah  unsur pembangun yang datang dari dalam teks drama itu atau sering disebut sebagai unsur intrinsik dan unsur pembangun yang datang dari luar teks drama atau sering disebut unsur ekstrinsik.
a.   Unsur Intrinsik
Unsur-unsur intrinsik drama meliputi plot atau alur, tokoh atau karakter, dialog, latar atau setting, tema, dan amanat. Naskah drama dapat dipentaskan apabila dilengkapi keterangan lakuan (lakon) sebagai unsur gerak atau action, tata busana dan tata rias, tata panggung, tata bunyi atau suara, dan tata lampu atau sinar. Berikut ini akan dipaparkan unsur pembangun drama .
1) Alur
Alur adalah urutan cerita dan peristiwa yang saling berhubungan secara kausalitas atau ada jalinan sebab-akibat antara peristiwa yang satu dengan lainnya. Tahapan alur dalam drama dikenal dengan nama eksposisi, komplikasi, dan klimaks.
Pemaparan/ eksposisi, adalah bagian awal naskah drama yang berisi keterangan mengenai tokoh serta latar. Dalam tahapan ini pengarang memperkenalkan para tokoh, menjelaskan tempat peritiwa, memberikan gambaran peristiwa yang akan terjadi. Bagian alur drama ini berfungsi untuk mengantar penonton ke dalam persoalan utama yang menjadi isi cerita drama tersebut.Eksposisi mendasari dan mengatur gerak dalam masalah-masalah waktu dan tempat. Eksposisi memperkenalkan pelaku, yang akan dikembangkan dalam bagian utama lakon itu, dan memberikan suatu indikasi resolusi.
Komplikasi bertugas mengembangkan konflik. Tahapan ini muncul ketika ada kekuatan, kemauan, sikap, atau pandangan yang saling bertentangan. Bentuknya berupa peristiwa yang segera terjadi setelah bagian eksposisi berakhir dan mulai muncul konflik. Pelaku utama mengalami gangguan, penghalang dalam mencapai tujuannya, membuat kekeliruan, yang akhirnya kita dapat meneliti tipe manusia bagaimanakah sang tokoh itu.
Klimaks/krisis atau turning point adalah titik puncak cerita. Bagian ini merupakan tahapan ketika pertentangan yang terjadi mencapai titik optimalnya. Peristiwa dalam tahap ini dipandang dari segi tanggapan emosional penonton, menimbulkan puncak ketegangan. Klimaks merupakan puncak rumitan yang diikuti oleh krisis atau titik balik. Tahap ini ditandai oleh perubahan alur cerita. Ujung dari klimaks adalah peleraian/resolusi yang menunjukkan perkembangan lakuan ke arah pemecahan konflikaau masalah. Dalam tahap ini ketegangan menurun. Ketegangan emosional menyusut. Suasana panas mulai mendingin, menuju kembali ke keadaan semula seperti sebelum terjadi pertentanganAkhir pertunjukan mungkin berupa happy end, mungkin sebaliknya unhappy-end.
2) Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah pelaku cerita yang menggerakan plot dari suatu tahapan ke tahapan lain. Kalau drama sebagai naskah dipentaskan, tokoh itu akan diperagakan seorang pelaku atau aktor. Pada saat itu, karakteristik dari karakter-karakter akan semakin jelas dan hidup daripada karakteristik tokoh dalam prosa fiksi.
Drama menggambarkan tokoh-tokoh cerita sebagai tiruan yang dipentaskan secara jelas, konkret, lebih hidup.  Tokoh-tokoh yang ditampilkan itu tidak saja dimaknai dari bentuk tubuh juga ditentukan oleh gerak-gerik, mimik atau gerak raut muka, bahkan suara pun member makna terhadap keberhasilan tokoh dan penokohan .
Tokoh-tokoh dalam drama dapat digolongkan berdasarkan perannya dalam lakuan, dan berdasarkan fungsinya dan sifatnya dalam lakon. Berdasarkan sifat tokoh  dalam lakuan kita mengenal tiga macam tokoh, yaitu: tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis, sedangkan berdasarkan fungsinya tokoh utama akan berhasil bila didukung oleh tokoh sampingan. 
Tokoh protagonis adalah tokoh yang pertama-tama berprakarsa dan berperan sebagai penggerak lakuan. Dalam sebuah lakon biasanya tokoh ini dibantu oleh tokoh-tokoh lainnya yang ikut terlibat dalam lakuan. Karena perannya sebagai protagonis, maka ia merupakan tokoh yang pertama-tama akan menghadapi masalah dan terbelit dengan kesulitan-kesulitan. Tokoh ini biasanya merupakan  tokoh kebajikan yang diharapkan mendapatkan simpati dan empati penonton.
Tokoh antagonis adalah tokoh yang berperan sebagai penghalang dan masalah bagi protagonis.
Tokoh tritagonis adalah tokoh yang berpihak pada protagonis atau antagonis, atau berfungsi menjadi penengah pertentangan antara kedua golongan tokoh tersebut.
3) Dialog atau Percakapan
S. Effendi dalam Liberatus berpendapat bahwa ciri utama sebuah drama adalah dialog. Hal tersebut menandakan pentingnya dialog dalam drama.  Terdapat beberapa macam fungsi dialog dalam drama antara lain:
a)  Melukiskan watak tokoh-tokoh dalam cerita tersebut.
b)  Mengembangkan dan menggerakan plot serta menjelaskan isi cerita drama kepada pembaca atau penonton.
c)  Memberikan isyarat peristiwa yang mendahului.
d)  Memberikan isyarat peristiwa yang  akan datang.
e)  Memberikan komentar terhadap peristiwa yang sedang terjadi dalam drama tersebut.
Diksi atau pilihan kata yang digunakan dalam dialog hendaknya dipilih sesuai dengan dramatic-action. Panjang pendeknya kata-kata dalam dialog berpengaruh terhadap konflik yang dibawakan lakon. Pada awal kisahan boleh saja disajikan dialog-dialog panjang. Akan tetapi, mendekati titik klimaks dialog-dialog harus dikurangi, dibuat lebih pendek-pendek agar penggawatan kisah dapat dirasakan penonton. Dengan demikian panjang pendeknya kalimat sangat berpengaruh terhadap irama drama
4) Latar
Latar yang juga disebut setting ini mengacu pada segala keterangan tentang waktu, tempat, dan suasana peristiwa dalam drama. Penjelasan bagaimana waktu, tempat, dan suasana, biasanya dalam naskah drama dituliskan. Bila drama itu dipentaskan, hal-hal tersebut diwujudkan dalam bentuk tata panggung, tata lampu, dan tata suara/bunyi.

5) Tema dan Amanat
Tema adalah gagasan pokok yang penyampaiannya sangat didukung oleh jalinan unsur tokoh, plot, dan latar cerita. Sejalan dengan itu,  Waluyo (2001: 24) mengemukakan bahwa dalam drama, tema dikembangkan melalui alur dramatik dalam plot melalui tokoh-tokoh protagonis dan antagonis dengan perwatakan yang memungkinkan konflik dan diformulasikan dalam bentuk dialog.
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Bagaimana jalan keluar yang diberikan pengarang terhadap permasalahan rumit yang dipaparkannya itulah amanat. Dengan demikian, amanat erat kaitannya dengan makna (significance) sedangkan tema berhubungan dengan arti (meaning) dari karya yang kita baca atau kita tonton.Amanat bersifat subjektif, dan tema lebih bersifat objektif.
b.  Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik ialah unsur luar yang dapat menjadi bahan pengarang dalam menciptakan karya sastra atau menjadi pertimbangan bagi pembaca, antara lain biografi pengarang, pemikiran, dan unsur sosial budaya masyarakatnya (Wellek & Warren, 1989: 82-153).[T1] 
1) Biografi Pengarang
Menurut Wellek & Warren [T2] mengemukakan penyebab lahirnya suatu karya sastra (termasuk drama) adalah pengarangnya sendiri. Biografi sang pengarang dapat dipergunakan untuk menerangkan dan menjelaskan proses terciptanya suatu karya sastra. Biografi pengarang itu dianggap mampu menerangkan dan menjelaskan proses penciptaan karya sastra untuk memberi masukan tentang penciptaan karyanya.
2) Pemikiran
Sastra sering dilihat sebagai suatu bentuk filsafat, atau sebagai pemikiran yang terbungkus dalam bentuk khusus. Dengan kata lain, sastra sering dianggap pemberi ide dan mengungkapkan pemikiran-pemikiran yang hebat, baik pemikiran yang berdasar kepada psikologis maupun yang berdasar kepada filsafat.
Secara langsung ataupun secara tidak langsung pembaca dapat mengetahui pemikiran yang dituangkan pada satra melalui kiasan-kiasan dalam karyanya. Tidak jarang pembaca mengerahui tentang pengarang bahwa ia menganut aliran filsafat tertentu atau mengetahui garis besar ajaran  dan paham-paham tertentu.

3) Sosial Budaya Masyarakat
Unsur ekstrinsik lain yang paling banyak dipermasalahkan adalah unsur yang berkaitan dengan latar sosial budaya masyarakat yang terkait dengan karya sastra. Hal tersebut karena adanya hubungan timbal balik antara pengarang, sastra, dan masyarakat. Hubungan timbal balik itu di antaranya: (1) menyangkut posisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca termasuk di dalamnya faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi pengarang sebagai perseorangan di samping mempengaruhi isi karya sastranya, yang disebutnya sebagai konteks sosial pengarang; (2) menyangkut sejauh mana karya sastra dianggap sebagai pencerminan keadaan masyarakat, yang disebutnya sebagai sastra sebagai cermin masyarakat; dan (3) menyangkut sampai seberapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial, dan sampai seberapa jauh nilai sastra dipengaruhi oleh nilai sosial, dan sampai seberapa jauh pula sastra dapat berfungsi sebagai alat penghibur dan sekaligus sebagai pendidikan bagi masyarakat pembacanya

0 komentar:

Posting Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Risman Munajat Note's - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz